![]() |
| (ilustrasi) |
Masa remaja hingga dewasa awal adalah masa-masa mencari jati diri yang mana pada fase ini terdapat fase penuh kegelisahan dan kedilemaan. Umumnya masa ini menjadi sangat idealis dan banyak keinginan, percobaan-percobaan dilakukan untuk memuaskan dan mewujudkan keinginan tersebut. Atau bisa juga disebut masa-masa idealis, masa-masa penuh dilematis baik pekerjaan, cinta, pendidikan, cita-cita dan lain sebagainya.
Sebagian ada yang mengisinya dengan memperbanyak bacaan, berkegiatan sosial, mengikuti-mengikuti pelatihan dan macam-macam lainnya. Tentu, hal itu disesuaikan dengan konsentrasi dan minatnya masing-masing. Menjadi anak muda hari ini banyak tuntutan yang berseberangan, misalnya saja nurani memaksa kita untuk ideal, tapi juga harus dibenturkan dengan realitas-realitas kekinian, memahami paradigme positivisme dan post-modernisme misalnya. Bagaimana seharusnya menjadi bagian dari masyarakat digital, menjedi generasi mileneal di era 4.0, atau bahkan harus berkomentar untuk mendapat pengakuan. Bagaimana harus bisa cakap di media sosial, belum lagi sebagai seorang muslim kita tidak boleh mengesampingkan nilai-nilai Islam, bukan?
Kalau kata Minke, dalam sajiannya Pram di Bumi Manusia, “aku ingin menjadi manusia yang bebas, tidak diperintah, juga memerintah. Ya, itu juga salah satu keidealisan anak muda masa kini. “Aku hanya ingin menjadi manusia yang berkehendak bebas, menjadi politisi, akademisi atau pembisnis, lalu menghasilkan banyak uang untuk mendirikan taman baca, komunitas, masjid-masjid, dan lain sebagainya” Tapi dalam proses pencapaiannya, tidak semua sebagaimana yang kita inginkan. Ada fase, lingkungan, pendidikan, interaksi, norma, aturan, nilai, keyakinan, bahkan agama yang harus kita lalui dan menjadi pertimbangan. Rumit, bukan? Sebab jalannya mencapai keinginan tidak semudah itu.
Perihal agama, saya rasa kita sepakat kalau agama adalah Konsep kemanusiaan, sedangkan alatnya adalah akal, dan tujuannya adalah kehidupan. Sebab itu yang membedakan kita dengan makhluk hidup yang lainnya. Sedangkan yang berkembang adalah penafsiran dan ilmu pengetahuan. Produk akal adalah budaya, belum tentu pikiran kita telah berjalan sesuai Islam.
Pertanyaannya, Bagaimana kita menerapkan nilai Islam yang tetap, sedang penafsiran tentang transformasi nilai itu dinamis, pengetahuan manusia yang berubah dalam mencari titik.
Bagaimana dengan relavansinya kita sebagai anak muda? Bagaimana menyikapi dan mengontrol diri untuk menjadi seorang muslim? Bagaimana menjadi muslim yang mengimplementasikan permenungan, pemikiran-pemikiran, penafsiran-penafsiran, dan ilmu pengetahuan? Kadang kita selalu dilatih untuk mempertanyakan dan mempertimbangkan.
Contohnya gini, saya Muslim, saya meyakini agama saya tapi saya belum yakin kalau yang saya lakukan itu sesuai agama saya. Kebenaran pun sifatnya subjektif, termasuk historis itu subjektif. Lalu, bagaimana untuk mengontrol diri dari tirani kesombongan dan ketakutan.
Pertanyaan-pertanyaan demikian menjadi wajar sebagai bentuk pencarian dan mensyukuri nikmat akal untuk berpikir akan perbaikan-perbaikan.
Seorang teman pernah mengatakan, beragamalah sebagaimana yang kamu ketahui. Saya pikir tidak hanya itu, beragama itu meningkatkan, mengusahakan, mengupayakan, melakukan perbaikan. yang saya ketahui beragama adalah bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya tidak mencaci, toleransi, tidak saling menyakiti dan masih banyak lagi. Termasuk yang tahu seharusnya memberitahu, yang mengerti, memberikan pengertiannya kepada yang belum memahami, menjadi muslim kekinian itu mempertanyakan dan memperbanyak bacaan. menjadi muslim kekinian itu meningkatkan pergaulan. Jadi, kamu mau jadi muslim yang bagaimana?
______________________
*Tati, adalah Ketua DPD IMM DIY Bidang IMMawati. Mahasiswi Pascasarjana Kebijakan Publik UGM.
loading...


0 Comments