![]() |
| Prof. Habibie (ilustrasi) |
Semua Kehilangan. Namun rasanya, terlalu egois jika mengatakan kehilangan, mengharu, bahkan pilu karena kehilangan sosok terbaik negarawan. Ia juga dapat bahagia dengan kekasih-kekasihnya,
dengan Tuhannya. Ia berhak damai tanpa meresahkan indonesia hari ini. Selamat jalan, Pak Habibie.
Kepulangan Habibie, membawa duka bagi warga Indonesia. Semua media buru-buru mengulasnya. Semua organisasi menyampaikan duka. Tak terkecuali tokoh-tokoh dan media-media internasional.
Habibie dikenal karena prestasi, gagasan, dan
keahliannya di bidang Teknologi. Pemerintah menetapkan hari berkabung selama tiga hari dengan imbauan mengibarkan bendera setengah tiang sebagai bentuk penghormatan.
Pemilik nama lengkap Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie merupakan Presiden RI yang berbeda dari presiden sebelumnya. Kita ingat, dengan keahliannya, Habibie berhasil membuat pesawat terbang untuk Indonesia. Satu-satunya kepala Negara yang juga disebut sebagai ilmuan. Tidak berlebihan jika netizen menyebutnya, Presiden dengan segudang ilmu pengetahuan.
Habibie sangat getol membahas kondisi kebangsaan dan kenegaraan. Pikirannya dipenuhi dengan kegelisahan permasalahan Indonesia hari ini. Ia juga tidak berhenti berharap pada banyak generasi muda sebagai calon penerus bangsa.
Sebagai Presiden Indonesia ke-3 dengan masa jabatan yang singkat, yaitu 21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999, kontribusi Habibie sangat banyak. Pasca Reformasi 1998, ia menggagas konsep ekonomi Habibienomics untuk mengatasi krisis moneter waktu itu, menurunkan nilai tukar rupiah untuk menyelamatkan krisis ekonomi.
Tuntutan-tuntutan reformasi wujudkan, salah satunya
kebebasan pers yang pada pemerintahan sebelumnya didapati banyak masalah.
Habibie Sang Ilmuwan
Sejak kecil, Habibie sudah akrab dengan mesin. Pendidikan menengahnya ditempuh di HBS (Horgere Burger School). Pada tahun 1950, pindah ke Gouvernements Middelbare School, Bandung. Kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas Katolik.
Kepandaiannya di bidang ilmu alam dan matemaika membuatnya mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru dengan cepat.
Saat kuliah, Habibie menemuh studi di Departemen Elektro, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (sekarang Institut Teknologi Bandung). Tahun 1955, ia melanjutkan kuliah di jurusan Konstruksi Pesawat Terbang di Rheinisch Westfählische Technische Hochschule (RWTH), Achen, Jerman Barat.
Menyelesaikan jenjang S-1 hingga S-3 selama 10 tahun, pada 1965, Habibie meraih gelar doktor ingenieur (doktor teknik) dengan predikat summa cumlaude.
Saat studi, Habibie muda tidak hanya menempuh studi. Ia juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan keorganisasian. Habibie menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Achen pada 1957.
Bapak teknologi ini menelurkan puluhan inovasi di bidang teknologi Aeronautical. Setelah lulus pada 1960, Habibie kemudian bekerja sebagai asisten peneliti di Institut Kontruksi Ringan RWTH.
Pada awal 1962, cuti pulang ke Indonesia selama tiga bulan. Di Bandung, ia bertemu dengan teman SMA-nya, Hasri Ainun Basari. Pada 12 Mei 1962, mereka menikah, lalu hidup bersama di Achen.
Selalu Jatuh Cinta Pada Ibu Pertiwi
Habibie adalah sosok pekerja keras. Setelah menikah, ia bekerja di Institut Kontruksi Ringan. Habibie juga bekerja di perusahaan gerbong kereta api Talbot.
Prestasinya pada waktu itu memenangkan Talbot sebagai tender gerbong perusahaan kereta api Jerman Deutsche Bundesbahn. Habibie ditugaskan untuk membuat prototipe gerbong kereta api.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktor teknik tahun 1965, Habibie mendapat dua tawaran. Pertama, menjadi pengajar di RWTH. Kedua, bekerja di perusahaan pesawat Boeing. Namun demikian, Habibie menolak keduanya.
Kemudian mendaftar di perusahaan pembuat pesawat Hamburger Flugzeug Bau (HFB) yang tengah mengembangkan pesawat Fokker F28 dan Hansajet 320. Setelah HFB berganti nama menjadi Messerschmitt-Boelkow-Blohm (MBB), ia diangkat sebagai Direktur Pengembangan dan Penerapan
Teknologi, pada 1973.
Jabatan tersebut adalah yang tertinggi di MBB yang pernah dijabat oleh orang asing.
Iklim demokratis di Jerman memengaruhi pandangan hidup Habibie.
Tak lama setelahnya, Presiden Soeharto memintanya mengembangkan industri manufaktur dalam negeri. Benar saja, saat kembali ke Indonesia, ia segera menyusun kerangka besar untuk mengembangkan pesawat di Indonesia.
Kepulangan dan Keteladanan
Habibie adaah teladan. Negarawan yang penuh dalam mengupayakan. Habibie tidak pernah berhenti dalam memikirkan, mengolah gagasan-gagasan perbaikan bagi negaranya. Itikadnya yang kuat mengantarkan Habibie pada keberhasilan-keberhasilan dari permasalahan kebangsaan.
Perihal cinta, satu hal kupelajari darinya. Ia selalu jatuh cinta pada Tuhan dan Ibu Pertiwi. Karyanya, sajaknya, ilmu pengetahuannya, keresahannya beliau tumpahkan kepada Tuhan dan Ibu Pertiwi.
Ainun adalah pelengkap cintanya. Inspirasi cintanya. Dengan mencintai Ainun, menguatkan cintanya kepada Tuhan dan Ibu Pertiwi. Selamat berbahagia pak Habibie. (*)
______________________
*Tati, adalah Ketua DPD IMM DIY Bidang IMMawati. Mahasiswi Pascasarjana Kebijakan Publik UGM.
loading...


0 Comments